Situs berbagi pengetahuan tentang kesehatan, resep makanan dan kehidupan manusia.

Hubungan Depresi dan Resiko Bunuh Diri

Depresi memang bukan penyakit fisiologis seperti pada umumnya, namun efek dari depresi dapat membahayakan tubuh juga. Depresi sangat erat kaitannya dengan bunuh diri, dan seseorang dengan penyakit depresi beresiko melakukan atau menunjukan gejala ingin bunuh diri. WHO bahkan mencatat 350 juta orang di dunia mengalami penyakit depresi, dan pastinya itu jumlah yang luar biasa banyak.

Faktor globalisasi tentunya menjadi dasar mengapa banyak orang mengalami depresi. Dalam artikel ini, Anda bisa menemukan hubungan depresi dan resiko bunuh diri, beserta tindakan pencegahan dini yang mesti dilakukan. Semoga artikel ini dapat membukakan mata, betapa berbahayanya penyakit depresi ini.

Hubungan Depresi dan Resiko Bunuh Diri

Hubungan Depresi dan Resiko Bunuh Diri

Orang dengan masalah mental biasanya sangat dekat dengan keinginan untuk melakukan bunuh diri. Perasaan putus asa dan tanpa harapan menjadikan penderita depresi mencari jalan agar hal itu bisa dihilangkan, dan bunuh diri merupakan jalan keluar terbaik.

Mayoritas kasus bunuh diri terjadi di kota-kota besar karena proses pengenalan diri dan pemulihan mental sangat susah dilakukan di kota-kota besar. Namun, kasus bunuh diri juga sering terjadi di pedesaan, terutama karena faktor ekonomi dan kecemburuan sosial.

Tanda-tanda Bahaya Seseorang akan Bunuh Diri

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, depresi sangat berkaitan erat dengan resiko bunuh diri. Beberapa gejala depresi menunjukan seseorang ingin bunuh diri. Jika Anda memiliki teman atau kerabat yang sering membicarakan tentang kematian dan bunuh diri, sebaiknya Anda segera melakukan pertolongan pertama, baik berbentuk perhatian ataupun membawanya ke psikolog terdekat. Berikut ini adalah beberapa tanda seseorang akan melakukan bunuh diri:

  • Orang dengan kadar depresi paling parah biasanya sering membicarakan keinginan untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri.
  • Biasanya juga sering mengekspresikan perasaan yang mendalam tentang kehilangan harapan atau merasa terjebak pada satu kondisi yang ia tidak ketahui.
  • Sering membicarakan hal-hal yang bersifat kematian atau hal-hal mengerikan lainnya.
  • Bertingkah serampangan dengan harapan ia bisa mati karena ulahnya (misalnya seperti mengendarai mobil secara ugal-ugalan).
  • Sering mengatakan minta maaf pada orang-orang, namun alasannya tidak jelas dan seperti dibuat-buat.
  • Sering memberikan barang-barang berharga pada orang lain, atau tidak pernah menjaga barang-barangnya.
  • Sering mengatakan “orang-orang akan lebih baik tanpa saya” atau “saya ingin pergi sesegera mungkin”. Biasanya hal ini diungkapkan di sosial media atau akun-akun pribadi miliknya.
  • Perubahan tingkah laku mendadak dari perilaku depresi menjadi perilaku yang sangat tenang dan bahagia. Perubahan ini terjadi secara ekstrim dan orang-orang bisa mengetahui ada gejala aneh yang terjadi pada dirinya.

Baca juga : 8 Tanda Kangker Usus Besar yang Mesti Anda Ketahui

Nah itulah sedikit pembahasan mengenai hubungan depresi dan resiko bunuh diri, semoga bermanfaat.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Hubungan Depresi dan Resiko Bunuh Diri